Membangun bersama ilmu

usaha tangga kerjayaan

June 19, 2009

Filed under: Uncategorized — angah08 @ 6:26 am

MENJADI PAKAN ALTERNATIF PENGGANTI PELET.

Harga pelet yang terus melambung bak buah simalakama bagi peternak lele. Di satu sisi pelet menjamin ukuran konsumsi tercapai dalam waktu singkat. Di lain pihak harga yang tinggi Rp190.000-Rp200.000 per 30 kg membuat keuntungan peternak berkurang jauh. ‘Biaya pakan pelet menyerap 80% ongkos produksi,’ kata Mirsi, peternak lele paiton di Cilegon, Provinsi Banten.

Menurut Purnama Sukardi larva lalat-selanjutnya disebut maggot-sangat potensial mengurangi pemakaian pelet. ‘Substitusinya bisa mencapai 50%,’ kata dekan Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, Jawa Tengah, itu. Yang istimewa maggot memiliki kadar protein tinggi sekitar 43%; pelet 30-40%. Nah, lele tumbuh baik jika mendapat asupan protein berkadar 30% atau lebih.

Penelitian Purnama menunjukkan maggot efektif bila diberikan bersama tepung ikan dengan perbandingan 1:1. Di sini laju pertumbuhan lele bakal melambung hingga 2,9% per hari. Bila hanya maggot percepatan tumbuh 2,5% per hari; tepung ikan tunggal 2% per hari. ‘Kombinasi ini sudah dicoba meski belum dibuat untuk skala komersial,’ katanya.

Murah

Maggot mudah dibuat. Ia dapat dibiakkan memakai media ampas tahu. Untuk menarik lalat, ampas tahu dicampur ikan kering, 8:2. Ampas tahu mudah didapat dan murah, Rp200-Rp500 per kg. Harga ikan rucah kering sekitar Rp1.000 per kg. Jadi untuk menyiapkan 1 kg media maggot hanya mengeluarkan biaya Rp600.

Sebelum dipakai, media perlu difermentasi selama 3-4 minggu. Setelah itu, lalat akan datang dan bertelur. Maggot dipanen setelah sepekan. Sekilo media menghasilkan 180 gram maggot. Bila ingin menghasilkan 1 kg maggot dibutuhkan 5,5 kg media. Nah, pakan yang dibuat dari kombinasi maggot dan tepung ikan hanya membutuhkan biaya Rp4.150 per kg. Angka itu tentunya jauh lebih murah dibandingkan harga pelet Rp6.500 per kg.

Sayangnya larva lalat bersifat agresif. Jika terkena sinar matahari maggot malah bermigrasi dari media dan mencari tempat berteduh. Sebab itu pula menurut Purnama tempat membiakkan maggot sebaiknya dibangun di atas kolam yang diberi peneduh. Selain itu, wadah media perlu berlubang. Tujuannya agar maggot yang bergerak jatuh langsung ke kolam dan disantap lele. ‘Jadi maggot tidak sempat tumbuh menjadi lalat,’ kata Purnama. Ampas tahu pun sebetulnya dapat dijadikan pakan karena mengandung nutrisi penting seperti 23,55% protein, 5,54% lemak, dan 26,92% karbohidrat.

Nabati

Di luar maggot yang berbasis protein hewani, kiambang Lemna minor juga potensial menjadi pakan lele. Kadar proteinnya setara maggot, 43%. Itu yang terungkap dari penelitian pascasarjana R Zaenal Arifin di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB). Menurut Zaenal kiambang yang dibuat tepung dapat menggantikan tepung ikan hingga 45%.

Pada percobaan pelet yang dibuat dari campuran 55% tepung ikan dan 45% kiambang memacu pertumbuhan lele sangkuriang hingga 2,91% bobot tubuh per hari. Jika digunakan dalam budidaya lele pada kolam seluas 1.000 m2 dengan padat tebar 200 ekor/m2, pemakaian pelet ini dapat menekan biaya pakan sampai Rp400.000/siklus budidaya.

Jumlah itu terbilang kecil, sekitar 8% dari total biaya pakan. Namun, sejatinya penggunaan kiambang sebagai pengganti pelet bisa dioptimalkan jika difermentasi dulu. ‘Kiambang segar masih kaya serat, sehingga sulit dicerna ikan karnivor seperti lele,’ ujar Dr Gede Suantika, peneliti akuakultur SITH ITB. Fermentasi bertujuan menurunkan kadar oligosakarida dan menghilangkan Anti Nutrition Factor (ANF)-nutrisi yang sulit dicerna dan menghambat pertumbuhan ikan.

Pilih-pilih

Sejatinya peternak sudah mencoba beragam pakan alternatif untuk lele. Bangkai unggas, ikan rucah, hingga limbah restoran dipakai. Wahyudi Tisnaatmaja di Klender, Jakarta Timur, misalnya, menggunakan limbah rumah makan yang direbus lalu dicincang. Hasilnya, ukuran konsumsi 7-10 ekor/kg dicapai 3 bulan dari bibit ukuran 10 cm.

Menurut Suantika meski menggunakan pakan alternatif, kecukupan nutrisi lele harus terjamin. Idealnya pakan mengandung 30% protein, 5% lemak, 10-20% karbohidrat, 0,25-0,5% vitamin, dan maksimal 6% serat kasar. Jika gizi tidak terpenuhi, pertumbuhan lele jauh dari sempurna. Jangan seperti yang dialami Mirsi. Dengan memberi pakan 50% roti sisa pabrik dan 50% pelet komersial, ‘Kepala lele jadi besar, tetapi tubuhnya kecil,’ katanya. (Tri Susanti/Peliput: Nesia A, & Lastioro AT)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s