Membangun bersama ilmu

usaha tangga kerjayaan

June 22, 2009

Filed under: Uncategorized — angah08 @ 5:31 am

Membekal Buluh Madu dan Rebung

Salam, Untuk mendapatkan bekalan benih bulu madu dan rebung yang baik dengan harga yg berpatutan adalah menjadi idaman bagi setiap penanam buluh rebung. Oleh itu kami, syarikat yang beroperasi di Perlis ingin menawarkan kepada peminat-peminat buluh madu di semenanjung Malaysia. Sila berhubung dengan kami untuk membuat tempahan buluh madu. Harga tawaran RM6.00-RM12.00 bergantung kepada jenis benih, bil benih dan jarak penhantaran.

Jika berkesempatan, boleh singgah di kebun kami di Kg. Paya Kelubi Kangar Perlis dengan menghubungi saya Ahmad 0174026258/Aminah 0195558453

 

June 19, 2009

Filed under: Uncategorized — angah08 @ 8:35 am

EM4 Pacu Pertumbuhan Ikan Lele

Oleh : Agus Salam

Ikan lele merupakan ikan yang sangat mudah untuk dipelihara. Pakan pun sangat mudah didapat, bisa dari sisa-sisa nasi dan ampas tahu. Namun bila dipelihara sekitar 25 balong (1 balong 3000-4000 ekor) cukup merepotkan. Banyaknya pakan yang diberikan kepada ikan lele mengganggu pertumbuhan ikan. Bahkan ikan terinfeksi penyakit kudis atau borok.
Kalau tidak cepat ditangani, banyak ikan yang mati. Karena itu, Eddy Sofyan (45) seorang peternak ikan lele dari Desa Karang Lemah Abang Bekasi secara khusus mengundang tim PT Songgolangit Persada Cabang Jakarta untuk menangani dan memberi solusi terbaik dalam mengaplikasikan EM4.
Pada analisis awal, ikan lele milik Eddy mengalami keracunan air yang mengandung amoniak, CO2, H2S dan gas berbahaya lain sehingga harus diberikan EM4. Karena EM4 bisa mengatasi pencemaran air akibat akumulasi limbah organik. Teknologi ini memanfaatkan mikroorganisme yang berpengaruh positif, diinokulasikan dalam dasar balong. Untuk meningkatkan kualitas air balong, EM4 merubah proses pembusukan jadi proses fermentasi.
Keuntungan lain menggunakan teknologi EM4 yang dialami Eddy adalah, meningkatkan daya tahan,dan kesehatan ikan, memfermentasikan sisa pakan, kotoran yang terdapat di dasar balong, juga menguraikan gas amoniak, methan dan hidrogen sulfida yang dapat mengganggu kehidupan ikan. EM4 juga mampu meningkatkan oksigen terlarut (DO) sehingga air menjadi bersih dan tidak diperlukan penggantian berulang-ulang karena kualitas air tetap terjaga serta aman bagi lingkungan. Untuk mendongkrak produksi ikan lele, syaratnya air harus bagus dan terhindar dari pencemaran. Sementara mengatasi pencemaran air sendiri kuncinya hanya dengan teknologi EM4.
Kemerosotan kualitas air yang disebabkan limbah merupakan masalah utama yang sering dihadapi para peternak. Limbah-limbah tersebut akan menimbulkan gas-gas beracun yang menyebabkan terjangkitnya penyakit ikan karena mengalami stress. Limbah tersebut juga mengakibatkan produksi akan merosot dan menimbulkan kematian. Karena dengan sosialisasi dan aplikasi EM4, kini Eddy mantap memakai teknologi ini. ”Mudah-mudahan produksi kali ini lebih meningkat,”katanya.

 

Filed under: Uncategorized — angah08 @ 7:46 am

Aplikasi EM Peternakan

Beberapa Cara Aplikasi EM-4 Peternakan antara lain :

1. Air Minum
Campuran EM dengan konsentrasi ½ – 1% dalam air minum ternak, diberikan setiap hari. Hindari penggunaan antibiotika melalui minum agar EM tidak mati. Bersihkan bak air minum dan tempat minum ternak setiap hari. Pathogen dalam saluran pencernaan dan ada pada tempat minum akan tertekan, ternak menjadi lebih sehat.

2. Pakan
Semprotkan EM pada pakan yang segera akan diberikan, EM akan meresap dalam pakan dan masuk kesaluran pencernaan makanan bersama makanan.

3. Sanitasi Kandang
Semprot kandang, kotoran termasuk hewan ternak piaraan. Untuk menanggulangi bau busuk, menekan berbagai pathogen yang ada pada bulu dan kulit ternak, bulu atau kulit ternak akan lebih cerah dan bersih

4. Jamu Ternak
EM dapat dipergunakan untuk membuat jamu ternak. Pada ternak ayam dan bebek jamu dapat diberikan setiap hari dengan konsesntrasi 1 %, bila telah menggunakan jamu ternak pemberian EM pada air minum tidak diperlukan lagi, peternak ayam dan bebek membuat jamu sendiri dengan ramuan tradisional yang terdiri dari jahe, kencur, kunir, laos, bawang putih dan daun sirih. Bahan-bahan ini dirajang halus direndam/fermentasi dengan EM dan molase. Setelah seminggu jamu sudah siap dipakai. Bila diperhatikan dengan jamu ternak dari EM, kuning telur lebih tebal, bau amis berkurang sehingga sangat baik digunakan untuk telur asin. Orang – orang yang biasanya alergi telur, dengan telur EM tidak alergi lagi.

5. Silase
Sapi, kerbau kambing telah biasa diberikan silase larutan pada musim kemarau saat rumput juga sulit didapat. Em dapat digunakan sebagai probiotik pembuatan silase, rumput kering, jerami, pohon jagung kering dan lain-lain dapat diolah menjadi pakan ternak dengan dipotong kecil-kecil terlebih dahulu, potongan rumput kering ini ditaruh dalam bak drum atau tempat lain, ditaburi dedak halus dan disiram dengan EM sampai lembab dan dipadatkan. Pembuatan silase dilakukan secara berlapis lapis, dengan cara seperti diatas. Adonan ini kemudian ditutup rapat agar suasananya anaerob, setelah 5 hari adonan sudah berbau tape dan siap diberikan pada ternak. Karena proses fermentasi, kandungan gizi silase lebih tinggi dari asalnya dan dapat disimpan lebih lama untuk memenuhi kebutuhan pakan pada saat musim kemarau.

6.Pakan daur ulang
Pakan daur ulang dapat dilakukan pada peternakan ayam petelur, cara ini sangat membantu peternak pada saat harga telur menurun dan harga pakan naik. Pembuatanya cukup sederhana. Kotoran ayam dijemur kering, digiling dan dicampur dengan dedak, disiram dengan EM dan molase lalu difermentasikan dalam keadaan anaerob. Fermentasi hanya diperlukan 24 jam dan pakan daur ulang ini dicampur dengan konsentrat lagi pada saat pemberian. Biaya dapat ditekan sampai dengan 28 % dengan kesehatan dan produktifitas seperti semula.

 

Filed under: Uncategorized — angah08 @ 7:43 am

Teknologi EM Bidang Pertanian

Aplikasi teknologi EM bidang pertanian dapat dilakukan dalam bentuk :

  1. Bokashi Padat
  2. Bokashi Cair
  3. EM Aktif
  4. Fermentasi Ektrak Tanaman
  5. Fermentasi Sari Buah
  6. Fermentasi Kaldu Ikan
  7. EM-5

1. Bokashi Padat
Merupakan pupuk organic yang dibuat dari kotoran hewan, sampah, organic, jerami, sekam, serbuk kayu, serasah dan lain – lain, dicampur ( dedak, disiram, dengan EM dan Molase, selanjutnya difermentasi. Setelah difermentasi 1-2 minggu campuran bahan organic telah menjadi pupuk siap pakai, ditandai dengan adanya bau tape serta miselium putih dari cendawan mukor. Penggunaannya dibenamkan kedalam tanah disekitar daerah perakaran tanaman. Pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman akan lebih baik lagi bila disertai siraman EM-aktif setiap 1 – 2 minggu sekali.

2. Bokashi Cair
Dibuat dari kencing hewan ( sapi, babi, kelinci ) diberi/dicampu dengan EM dan molase difermentasi selama kurang lebih seminggu. Cara penggunaanya dicampur dengan air disiramkan ke tanah disekitar daerah perakaran. Sangat baik disiramkan diatas taburan bokashi. Enggunaan secara rutin selain memperbaiki fisik dan kimia tanah, dapat menekan berbagai pathogen secara efektif.

3. Fermentasi Ektrak Tanaman
Formula ini lebih dikenal dengan nama fermented plant ekstrak (FPE) FPE dapat dibuat dari campuran berbagai tanaman rempah dan obat, tanaman yang berbau khas diambil daunnya saja, batang, kulit akar maupun buah. Bagian-bagian tanaman ini diektrak dan difermentasi dengan EM dan molase selama seminggu.

4. EM Aktif
Dibuat dari EM asli dan molase yang dicampur dengan air sampai mencapai 20 kali kemudian difermentasi selama seminggu. Dalam pemanfaatannya diencerkan lagi dengan air sampai mencapai konsentrasi 1-2 permil disemprotkan pada daun tanaman atau disiramkan kedalam tanah. FPE dapat dipergunakan sebagai pengganti pestisida maupun fungisida, disemprotkan pada daun diatas tanah. Setiap hama biasanya peka terhadap ramuan tertentu. Meramu FPE merupakana seni tersendiri.. Banyak petani membuat ramuan sendiri untuk memberantas hamanya, tetapi Pak Oles telah membuat ramuan siap pakai yang diberi nama SAFERTO-5 ( Sari Fermentasi Tanaman Obat ) FPE disemprotkan pada tanaman secara berkesinambungan setiap 2 minggu. Karena pengaruh antioksidan dan bau yang khas, hama tidak kerasan dan pergi meninggalkan tanaman dengan tidak akan ada eksplosi dari hama.

5. Fermentasi Sari buah
Pada musim buah-buahan yang terbuang Buah-buah yang telah masak ini banyak mengandung nutrisi. Buah ini dapat diolah menjadi pupuk cair disemprotkan pada daun setelah buah-buahan diekstrak dan difermentasi dengan EM dan Molase. Produksi yang serupa namun bahannya dari rumput laut, telah dibuat oleh pak Oles dengan merek dagang SARULA-3. Penyemprotan tanaman secara rutin dengan formula ini dapat memacu pertumbuhan tanaman, merangsang pembentukan bunga dan buah.

6. Fermentasi Kaldu Ikan
Seperti halnya sari buah, kaldu ikan juga kaya akan nutrisi, kaldu ikan dapat dibuat menjadi pupuk cair disiramkan kedalam tanah untuk memperbaiki fisik, kimia, dan biologi tanah. Dalam pembuatannya ikan dipotong kecil-kecil direbus dan setelah kaldunya dingin difermentasi dengan air dan molase. Fermentasinya lebih lama sekitar 1 bulan. Fermented Fish Emulsion ini siap pakai bila telah tercium bau alcohol. Bila busuk berarti pembuatannya gagal karena terkontaminasi pathogen.

7. EM-5
EM-5 adalah campuran dari arak, cuka EM-4 molase dan air. Cara pembuatan dan pengemasannya dengan FPE. EM-5 ini adalah pestisidaorganik dengan teknologi EM untuk memberantas hama khusus untuk EM-5 dapat disimpan sampai 3 bulan asalkan tidak terkontaminasi pathogen. Berdasarkan jenis tanaman yang diusahakan serta type tanah, aplikasikan teknologi EM dibidang pertanian dibedakan dalam 3 cara :

  1. Aplikasi EM dilahan basah untuk tanaman padi sawah
  2. Aplikasi EM dilahan kering untuk tanaman palawija, sayuran dan tanaman semusim
  3. Aplikasi EM dilahan kering untuk tanaman tahunan seperti buah-buahan, cengkeh, kopi, kakau dan lain-lain.
 

Bahan-bahan untuk dijadikan makanan ikan

Filed under: Uncategorized — angah08 @ 7:24 am
  1. Bahan Hewani
    1. Tepung Ikan
      Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis) yang berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan. Ikan difermentasikan menjadi bekasem untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu makan ikan. Lama penyimpanan < 11-12 bulan, bila lebih dapat ditumbuhi cendawan atau bakteri, serta dapat menurunkan kandungan lisin yang merupakan asam amino essensial yang paling essensial sampai 8%. Kandungan gizi: protein=22,65%; lemak=15,38%; Abu=26,65%; Serat=1,80%; Air=10,72%; Nilai ubah=1,5–3
  1. Telur Ayam dan Itik
      1. Bahan: telur mentah atau telur rbus.
      2. Penggunaan: Telur mentah langsung dikopyok dan dicampur dengan bahan lain. Telur rebus, diambil kuningnya, dihaluskan dan dilarutkan sampai membentuk emulsi atau suspensi.
      3. Kandungan gizinya: Protein=12,8%, Lemak=11,5%, Karbohidrat=0,7%, Air=74%
  2. Dedak
    Bahan dedak padi ada 2, yaitu dedak halus (katul) dan dedak kasar. Dedak yang paling baik adalah dedak halus yang didapat dari proses penyosohan beras, dengan kandungan gizi: Protein=11,35%, Lemak=12,15%, Karbohidrat=28,62%, Abu=10,5%, Serat kasar=24,46%, Air=10,15%, Nilai ubah= 8.
  1. Tepung Ampas Tahu
    Kandungan gizinya: Protein=23,55%, Lemak=5,54%, Karbohidrat=26,92%, Abu=17,03%, Serat kasar=16,53%, Air=10,43%.
  2. Tepung Bungkil Kacang Tanah
    Bungkil kacang tanah adalah ampas pembuatan minyak kacang. Kelemahannya: dapat menyebabkan penyakit kurang vitamin, dengan gejala sirip tidak normal dan dapat dicegah dengan membatasi penggunaannya. Kandungan gizi: Protein=47,9%, Lemak=10,9%, Karbohidrat =25,0%, Abu=4,8%, Serat kasar=3,6%, Air=7,8%, Nilai ubah=2,7-4.
  1. Bungkil Kelapa
    Bungkil kelapa adalah ampas dari proses pembuatan minyak kelapa. Sebagai bahan ramuan dapat dipakai sampai 20%. Kandungan gizi: Protein=17,09%, Lemak=9,44%, Karbohidrat=23,77%, Abu=5,92%, Serat kasar=30,4%, Air=13,35%.
  2. Tepung Daun Turi(Geti)

Kelemahannya: mengandung senyawa beracun : asam biru (HCN), lusein,  dan  alkoloid-alkoloid lainnya. Kandungan gizinya: Protein=27,54%, Lemak=4,73%,

Karbohidrat=21,30%, Abu=20,45%, Serat kasar=14,01%, Air=11,97 %

  1. Tepung Daun Ketela Pohon
    Kelemahannya: racun HCN/asam biru. Kandungan gizi: Protein=34,21%, Lemak=4,6%, Karbohidrat=14,69%, Air=0,12.
  1. Kiambang Kecil 43 protien
  2. Ulat hampassoya dan sawit 45% protien
 

Filed under: Uncategorized — angah08 @ 6:26 am

MENJADI PAKAN ALTERNATIF PENGGANTI PELET.

Harga pelet yang terus melambung bak buah simalakama bagi peternak lele. Di satu sisi pelet menjamin ukuran konsumsi tercapai dalam waktu singkat. Di lain pihak harga yang tinggi Rp190.000-Rp200.000 per 30 kg membuat keuntungan peternak berkurang jauh. ‘Biaya pakan pelet menyerap 80% ongkos produksi,’ kata Mirsi, peternak lele paiton di Cilegon, Provinsi Banten.

Menurut Purnama Sukardi larva lalat-selanjutnya disebut maggot-sangat potensial mengurangi pemakaian pelet. ‘Substitusinya bisa mencapai 50%,’ kata dekan Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, Jawa Tengah, itu. Yang istimewa maggot memiliki kadar protein tinggi sekitar 43%; pelet 30-40%. Nah, lele tumbuh baik jika mendapat asupan protein berkadar 30% atau lebih.

Penelitian Purnama menunjukkan maggot efektif bila diberikan bersama tepung ikan dengan perbandingan 1:1. Di sini laju pertumbuhan lele bakal melambung hingga 2,9% per hari. Bila hanya maggot percepatan tumbuh 2,5% per hari; tepung ikan tunggal 2% per hari. ‘Kombinasi ini sudah dicoba meski belum dibuat untuk skala komersial,’ katanya.

Murah

Maggot mudah dibuat. Ia dapat dibiakkan memakai media ampas tahu. Untuk menarik lalat, ampas tahu dicampur ikan kering, 8:2. Ampas tahu mudah didapat dan murah, Rp200-Rp500 per kg. Harga ikan rucah kering sekitar Rp1.000 per kg. Jadi untuk menyiapkan 1 kg media maggot hanya mengeluarkan biaya Rp600.

Sebelum dipakai, media perlu difermentasi selama 3-4 minggu. Setelah itu, lalat akan datang dan bertelur. Maggot dipanen setelah sepekan. Sekilo media menghasilkan 180 gram maggot. Bila ingin menghasilkan 1 kg maggot dibutuhkan 5,5 kg media. Nah, pakan yang dibuat dari kombinasi maggot dan tepung ikan hanya membutuhkan biaya Rp4.150 per kg. Angka itu tentunya jauh lebih murah dibandingkan harga pelet Rp6.500 per kg.

Sayangnya larva lalat bersifat agresif. Jika terkena sinar matahari maggot malah bermigrasi dari media dan mencari tempat berteduh. Sebab itu pula menurut Purnama tempat membiakkan maggot sebaiknya dibangun di atas kolam yang diberi peneduh. Selain itu, wadah media perlu berlubang. Tujuannya agar maggot yang bergerak jatuh langsung ke kolam dan disantap lele. ‘Jadi maggot tidak sempat tumbuh menjadi lalat,’ kata Purnama. Ampas tahu pun sebetulnya dapat dijadikan pakan karena mengandung nutrisi penting seperti 23,55% protein, 5,54% lemak, dan 26,92% karbohidrat.

Nabati

Di luar maggot yang berbasis protein hewani, kiambang Lemna minor juga potensial menjadi pakan lele. Kadar proteinnya setara maggot, 43%. Itu yang terungkap dari penelitian pascasarjana R Zaenal Arifin di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB). Menurut Zaenal kiambang yang dibuat tepung dapat menggantikan tepung ikan hingga 45%.

Pada percobaan pelet yang dibuat dari campuran 55% tepung ikan dan 45% kiambang memacu pertumbuhan lele sangkuriang hingga 2,91% bobot tubuh per hari. Jika digunakan dalam budidaya lele pada kolam seluas 1.000 m2 dengan padat tebar 200 ekor/m2, pemakaian pelet ini dapat menekan biaya pakan sampai Rp400.000/siklus budidaya.

Jumlah itu terbilang kecil, sekitar 8% dari total biaya pakan. Namun, sejatinya penggunaan kiambang sebagai pengganti pelet bisa dioptimalkan jika difermentasi dulu. ‘Kiambang segar masih kaya serat, sehingga sulit dicerna ikan karnivor seperti lele,’ ujar Dr Gede Suantika, peneliti akuakultur SITH ITB. Fermentasi bertujuan menurunkan kadar oligosakarida dan menghilangkan Anti Nutrition Factor (ANF)-nutrisi yang sulit dicerna dan menghambat pertumbuhan ikan.

Pilih-pilih

Sejatinya peternak sudah mencoba beragam pakan alternatif untuk lele. Bangkai unggas, ikan rucah, hingga limbah restoran dipakai. Wahyudi Tisnaatmaja di Klender, Jakarta Timur, misalnya, menggunakan limbah rumah makan yang direbus lalu dicincang. Hasilnya, ukuran konsumsi 7-10 ekor/kg dicapai 3 bulan dari bibit ukuran 10 cm.

Menurut Suantika meski menggunakan pakan alternatif, kecukupan nutrisi lele harus terjamin. Idealnya pakan mengandung 30% protein, 5% lemak, 10-20% karbohidrat, 0,25-0,5% vitamin, dan maksimal 6% serat kasar. Jika gizi tidak terpenuhi, pertumbuhan lele jauh dari sempurna. Jangan seperti yang dialami Mirsi. Dengan memberi pakan 50% roti sisa pabrik dan 50% pelet komersial, ‘Kepala lele jadi besar, tetapi tubuhnya kecil,’ katanya. (Tri Susanti/Peliput: Nesia A, & Lastioro AT)

 

makanan alternative ternakanan ikan

Filed under: Uncategorized — angah08 @ 5:11 am

Ulat Pengganti Pelet
Ulat ternyata mampu menggantikan pelet sebagai makanan ternak alternatif untuk ikan. Selain kandungan gizinya tinggi, larva serangga itu juga ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan pengawet dalam pembiakannya. Berikut temuan penelitian selengkapnya.
——–

Selain mengetahui seluk-beluk bibit ikan yang bagus, beternak ikan juga harus memahami kondisi fisik air kolam pemeliharaan. Lalu, kejelian dalam memilih juga diperlukan untuk menunjang keberhasilan budi daya ikan.

Makanan berfungsi sebagai sumber energi dan materi kehidupan dalam budi daya ikan. Karena itu,makanan mempunyai pengaruh penting terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.

Selama ini hampir sebagian besar peternak ikan masih mengandalkan pelet sebagaim pakanan ikan. Selain mudah didapat dan awet, proses pembuatannya relatif mudah. Karena itu, peternak bisa memproduksinya sendiri.

Sayang, pelet berbahan pengawet dan mengakibatkan rusaknya lingkungan perairan. Pelet yang tidak termakan oleh ikan pun akan meninggalkan sisa. Ini menjadikan air keruh dan kotor.

Untuk itu, diperlukan alternatif makanan ikan alami. Salah satunya adalah maggot. Inilah yang mendorong Hartoyo dan Purnama Sukardi, peneliti dari Pusat Ahli Teknologi dan Kemitraan (Pattra) Lembaga Penelitian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, meneliti makanan alternatif untuk ikan peliharaan. Peneliti ingin mencari mpakanan ikan alami yang ramah lingkungan.

Memproduksi makanan ikan alami memang bukan hal mudah. Tapi, hal itu bukanlah pekerjaan sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi masyarakat pedesaan secara umum. Selain itu, diperlukan keahlian khusus dalam pengoperasiannya.

Makanan sebagai makanan ikan yang baik harus mengandung nilai gizi tinggi dan seimbang. Gizi utama dalammakanan ikan setidaknya mengandung unsur protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air.

Meski begitu, kebutuhan nutrisi ikan berubah-ubah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Misalnya, jenis, ukuran, dan aktivitas ikan, dan macam makanan. Faktor lingkungan tempat ikan hidup juga berpengaruh. Misalnya, suhu air dan kadar oksigen terlarut dalam kolam.

Jumlah makanan yang dibutuhkan ikan setiap hari berhubungan berat dengan badan dan umurnya. Namun, persentase jumlahnya semakin berkurang dengan bertambahnya ukuran dan umur ikan. Rata-rata jumlah makanan harian yang dibutuhkan seekor ikan adalah 3 persen – 5 persen dari bobot total tubuhnya.

Ikan berukuran kecil dan berumur muda membutuhkan jumlah makanan lebih banyak daripada ikan dewasa berukuran besar. Kebutuhan akan nutrisi ikan kecil juga lebih tinggi. Terlebih pada kebutuhan unsur proteinnya.

Misalnya, ikan dengan berat 250 gram, kebutuhan makanan harian 1,7 persen – 5,8 persen dari biomassanya. Sementara ikan yang beratnya 600 gram, kebutuhan makanan hariannya hanya 1,3 persen – 3 persen dari biomassanya.

Protein berfungsi membentuk dan memperbaiki jaringan dan organ tubuh yang rusak. Pada kondisi tertentu protein digunakan sebagai sumber energi pada proses metabolisme.

Karena itu, kadar protein makanan yang rendah akan menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Daya tahan ikan juga menurun sehingga ikan akan mudah terserang penyakit.

Lalat berasal dari telur lalat yang mengalami metamorfosis pada fase kedua setelah fase telur dan sebelum fase pupa yang kemudian berubah menjadi lalat dewasa. Larva itu hidup pada daging yang membusuk. Kadang juga menginvestasi pada luka hewan yang masih hidup. Termasuk pada manusia.

Dalam prosesnya, penambahan ikan baja tidak boleh melebihi separo atau 50 persen dari berat ampas tahu. Pembiakan paling efektif jika ditambahkan 20 persen ikan baja dari berat ampas tahu.

Bagaimana bila ampas tahu tidak ditambah dengan ikan baja? Atau ampas tahu dicampur ikan baja yang melebihi 50 persen dari ampas tahu? Yang terjadi adalah percuma karena tidak dapat menghasilkan ulat.

Artinya, hal itu mengindikasikan bahwa lalat membutuhkan perbandingan ampas tahu dan ikanbaja dengan komposisi perbandingan tertentu secara tepat. Ikan baja berfungsi sebagai makanan ulat yang telah jadi. Keberadaannya juga diperlukan sebagai daya tarik lalat untuk bertelur pada media tersebut.

Walaupun demikian, perbandingan ampas tahu dan ikan baja tidak berpengaruh terhadap kandungan protein pada ulat.

Mengapa ampas tahu? Salah satu alasannya, selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya perairan, pada tepung ampas tahu masih terdapat kandungan gizi. Yaitu, protein (23,55 persen), lemak (5,54 persen), karbohidrat (26,92 persen), abu (17,03 persen), serat kasar (16,53 persen), dan air (10,43 persen).

Ketika ampas tahu dipilih untuk dijadikan media, diharapkan terjadi transfer energi dari ampas tahu pada ulat yang dihasilkan. Selain itu, sebagai limbah, ampas tahu mudah didapatkan dengan harga relatif terjangkau. Hal itu menjadikan teknologi pembiakan maulat merupakan teknologi yang murah dan mudah diaplikasikan.

Diharapkan ada teknologi yang lebih aplikatif dan sederhana untuk memanfaatkan limbah ampas tahu sebagai makaanan ikan, sehingga masyarakat mudah melakukannya.

Selama ini para petani ikan sudah memanfaatkan limbah ampas tahu untuk makanan ikan. Namun, hal itu dilakukan secara langsung tanpa melalui proses terlebih dahulu. Padahal, ampas tahu tidak bisa diberikan kepada semua jenis ikan.

Selain itu, hal ini dapat berdampak negatif, baik pada ikan maupun lingkungan hidup. Terlebih limbah tahu cair, yaitu sisa air tahu yang tidak menggumpal sehingga mengandung padatan tersuspensi maupun terlarut. Selanjutnya, terjadi perubahan secara fisika, kimia, dan hayati yang menghasilkan zat beracun. Tentu hal itu menjadi media potensial bagi tumbuhnya kuman penyakit

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.